Bisnis.com, JAKARTA — Belum lama ini, taipan dan orang terkaya kedua di Hong Kong, Lee Shau Kee, meninggal dunia. Meninggalkan Li Ka Shing menjadi satu-satunya pendiri perusahaan konglomerat terbesar Hong Kong yang masih hidup.
Empat keluarga besar tersebut meliputi keluarga taipan terkenal Li Ka Shing, Lee Shau Kee, Kwok Tak Seng, dan Cheng Yu Tung, yang sebagian besar memulai dari awal yang sederhana dan mencapai puncak pada abad ke-20.
Kwok dan Lee adalah dua dari tiga pengusaha yang mendirikan pengembang properti Sun Hung Kai Properties pada 1963.
Mengutip Bloomberg, Kwok lahor di Makau dan tumbuh dalam keluarga yang menjalankan bisnis grosir. Setelah pindah ke Hong Kong bersama keluarganya, dia membuka toko grosir, yang juga menjual bahan-bahan industri. Toko tersebut kemudian berkembang dan menjadi pemasok toko grosir.
Pada 1952, Kwok mendirikan Hung Cheong Import & Export, yang mengkhususkan diri dalam grosir barang-barang asing. Dia aktif dalam bisnis impor-ekspor Hong Kong, dengan penjualan mencapai Makau dan Asia Tenggara, hingga dia mendapat julukan "Raja Barang-Barang Asing."
Kwok meninggal dunia pada akhir 1990 di usia 79 tahun. Setelah kematiannya, keluarga Kwok mengalami kekacauan karena perebutan kekuasaan di antara ketiga putranya.
Baca Juga
Selanjutnya, ada Cheng Yu Tung, yang merupakan pendiri perusahaan perhiasan Chow Tai Fook dan pengembang properti New World Development.
Lahir pada 1925, Cheng menjalani hidup yang penuh pasang surut. Meskipun hanya menyelesaikan sekolah dasar, dia bekerja keras dari magang di toko emas hingga menjadi salah satu dari empat orang terkaya di Hong Kong melalui tekad yang kuat. Dia meninggal dunia pada musim gugur 2016 di usia 91 tahun.
Kemudian, ada Lee Shau Kee, yang lahir pada 1928 di provinsi Guangdong, China, pindah ke Hong Kong di usia dua puluhan untuk membangun kariernya.
Dia memulai kariernya dengan berdagang emas dan mata uang asing sebelum beralih ke bidang real estat, di mana dia meraih kesuksesan besar.
Keluarga Lee memiliki Henderson Land Development, konglomerat real estat besar yang telah menjadi kekuatan dominan di pasar properti Hong Kong selama beberapa dekade.
Setelah pensiun pada 2019, Lee menyerahkan bisnis tersebut kepada kedua putranya, Peter Lee Ka Kit dan Martin Lee Ka Shing, sekaligus meninggalkan sejumlah aset untuk ketiga putrinya.
Dikenal sebagai "Warren Buffett-nya Hong Kong," dia meninggal pada 17 Maret 2025 di usia 97 tahun.
Kini, hanya tersisa miliarder Li Ka Shing, yang kini berusia 96 tahun. Lahir pada 1928, di tahun dan provinsi yang sama dengan teman sekaligus saingannya Lee Shau Kee, Li putus sekolah di usia muda dan memulai kariernya dengan menjual bunga plastik.
Dia mulai mengumpulkan kekayaannya melalui investasi real estat dan menjadi orang terkaya di Hong Kong selama beberapa dekade, memegang gelar tersebut dari 1998 hingga 2019 menurut Forbes.
Namun, kesehatannya menurun selama bertahun-tahun dan kini dia bergantung pada kursi roda dan bantuan saat bergerak. Sang taipan pensiun pada 2018, menyerahkan bisnis keluarga kepada putra sulungnya, Victor Li Tzar Kuoi.
Saat ini, Li Ka Shing masih menggenggam kekayaan US$38,2 miliar dan menjadi orang terkaya ke-40 di dunia.