Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Miliarder dan Tokoh Dunia Komentari Tarif Trump: Bisa Rusak Ekonomi AS

Miliarder dan para tokoh dan pemimpin di berbagai belahan dunia mengomentari tindakan Trump mematok tarif besar untuk barang impor ke AS.
Miliarder dan Tokoh Dunia Beri Komentar Tarif Trump: Bisa Rusak Ekonomi AS Jim Lo Scalo / EPA / Bloomberg
Miliarder dan Tokoh Dunia Beri Komentar Tarif Trump: Bisa Rusak Ekonomi AS Jim Lo Scalo / EPA / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden AS Donald Trump baru saja menerapkan kebijakan tarif terbaru untuk semua produk impor ke AS dan bea masuk yang lebih tinggi ke beberapa negara. 

Dalam kebijakan terbarunya, Trump mengenakan tarif dasar 10% untuk produk impor ke AS dan menerapkan tarif timbal balik resiprokal termasuk ke beberapa negara di Asia, seperti 46% ke Vietnam, 49% untuk Kamboja, 44% untuk Sri Lanka, Bangladesh 37%, Thailand 36%, Taiwan 32%, dan termasuk Indonesia menerima balasan tarif sebesar 32%. 

Keputusan Donald Trump untuk mengenakan tarif baru pada semua barang yang masuk ke AS dinilai sejumlah tokoh ekonomi dan miliarder terkaya dunia sebagai "pukulan telak bagi ekonomi dunia". 

Mengutip BBC, komentar tersebut disampaikan oleh kepala Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Komentarnya menggemakan pendapat dari sejumlah negara lain, termasuk China, yang telah menyatakan penentangannya terhadap langkah tersebut dan telah memperingatkan akan mengambil "tindakan balasan yang tegas" terhadap AS.

Trump mengatakan tindakan tersebut merupakan balasan atas kebijakan perdagangan yang tidak adil, seraya menambahkan bahwa dia telah "sangat baik" dalam keputusannya.

Trump mengatakan tarif akan digunakan untuk meningkatkan manufaktur AS, dengan mengatakan pada Rabu (3/4/2025) bahwa langkah tersebut akan "membuat Amerika kaya kembali".

Dalam pernyataannya pada Kamis pagi, von der Leyen mengatakan pajak impor baru akan menyebabkan "ketidakpastian meningkat", yang menyebabkan konsekuensi "mengerikan" "bagi jutaan orang di seluruh dunia".

Sekutu Trump dari Italia, Perdana Menteri Giorgia Meloni, juga mengatakan bahwa keputusan itu "salah", tetapi dia akan berupaya mencapai kesepakatan dengan AS untuk "mencegah perang dagang".

Selain itu, rekan Trump dari Spanyol, Perdana Menteri Pedro Sánchez mengatakan Spanyol akan "terus berkomitmen pada dunia yang terbuka". 

Sementara di Irlandia, Taoiseach Micheál Martin mengatakan keputusan Trump "sangat disesalkan" dan menilai bahwa keputusan itu tidak menguntungkan "siapa pun".

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengatakan akan bertemu dengan perwakilan dari sektor bisnis yang terkena dampak pajak baru di Istana Élysée pada Kamis (3/4/2025). 

Juru bicara pemerintah Prancis, Sophie Primas mengatakan pada Kamis pagi bahwa Prancis "siap untuk perang dagang ini".

Selain para pejabat negara, miliarder Mark Cuban juga berkomentar lewat media sosialnya, X, bahwa bisnisnya bisa terdampak dari keputusan Trump tersebut. 

Perusahaan Cuban memiliki misi untuk membuat obat-obatan lebih terjangkau, dengan rencana harga transparan yang menaikkan biaya produksi obat sebesar 15% dan menambahkan biaya apotek potensial yang dibebankan oleh pemasok mereka. 

Namun, Cuban mengungkapkan, kini harga-harga tersebut mungkin naik jika pemerintahan Trump mengenakan tarif pada India. 

Meskipun Cost Drugs Plus tidak akan terpengaruh oleh tarif pada China, Cuban mengatakan setiap tarif potensial pada barang-barang yang diimpor dari India akan memaksa perusahaan untuk menaikkan harga obat-obatannya. 

Tokoh ekonomi Ray Dalio juga berkomentar, mengatakan tarif Trump dapat menyebabkan perubahan mendadak dalam tatanan moneter, ekonomi, dan geopolitik. 

Dilansir Business Insider, Ray Dalio menekankan bahwa ketidakseimbangan produksi, perdagangan, dan modal, khususnya utang, harus ditangani karena menimbulkan risiko yang signifikan.

Pendiri Bridgewater Associates itu berbagi wawasannya tentang implikasi tarif timbal balik yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump pada 2 April 2025, menambahkan bahwa meskipun ini dapat menjadi pilihan pajak yang menarik, tarif tersebut mengurangi efisiensi produksi global dan memiliki efek stagflasi di seluruh dunia.

Melalui X, Dalio menjelaskan bahwa tarif, yang pada dasarnya menjadi pajak, dapat menghasilkan pendapatan bagi negara yang memberlakukan tarif, yang memengaruhi produsen asing dan konsumen domestik. 

Dampak pada masing-masing tarif bergantung pada elastisitas relatifnya. Pada saat konflik internasional, tarif menjadi penting untuk memastikan kemampuan produksi dalam negeri. 

Menurutnya, tarif juga dapat membantu mengurangi ketidakseimbangan akun modal dan giro, mengurangi ketergantungan pada produksi dan modal asing, yang sangat penting selama konflik geopolitik.

"Jadi ada banyak bagian yang bergerak dan ada banyak hal yang harus diukur untuk menilai dampak pasar dari tarif besar,” katanya. 

Di sisi lain, dia memperingatkan potensi perubahan mendadak dalam tatanan moneter, ekonomi, dan geopolitik. 

Menurutnya, efek jangka panjang sebagian besar akan bergantung pada kepercayaan pada utang dan pasar modal, tingkat produktivitas, dan sistem politik. 

Selain itu, Dalio juga berbicara tentang status dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia. Meskipun bermanfaat dalam menciptakan permintaan utang AS, hal itu juga menyebabkan pinjaman berlebih, yang berkontribusi terhadap tantangan ekonomi saat ini.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper